Bahan Baku Tebu Tersendat, Ini Reaksi Bos PTPN XI

PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XI berhasil masuk peringkat ke 5 besar sebagai perusahaan holding sebagai pabrik gula terbaik (Foto : Dok. Bisnistoday.id)

Bisnistoday.id, SURABAYA : Komisaris Utama PTPN XI Dedy Mawardi langsung merespon terkait  audiensi Serikat Pekerja Pabrik Gula yang berasal dari PTPN X, XI, Serikat Pekerja Rajawali Nusantara, dan SPPP SPSI PG Kebon Agung yang melakukan  audiensi dengan komisi B DPRD Jatim  Senin (13/7) kemarin terkait langkanya bahan baku tebu dan dugaan kompetisi tidak sehat yang dilakukan PG Swasta

“Apa yang disampaikan kawan-kawan serikat pekerja kemarin benar, pola kemitraan yang sudah lama terjalin rusak akibat motif transaksional. Ini yang harus diperhatikan oleh pihak terkait, menagih komitmen para pabrik gula baru diantaranya harus memenuhi sekurang-kurangnya dua puluh persen dari keseluruhan bahan baku yang dibutuhkan berasal dari kebun sendiri, ini sudah diatur dalam Permentan maupun undang-undang tentang perkebunan yang artinya harus ditaati bila dilanggar harus ada konsekuensinya, instansi terkait yang jadi wasitnya ,” ungkap Dedy Mawardi di Surabaya, Rabu (15/7/2020)

Dedy sapaannya, pihaknya sangat menyayangkan komitmen tersebut tidak berjalan, sehingga pabrik gula baru tersebut mengambil BBT dari petani yang sudah bermitra dengan pabrik gula yang sudah eksisting.

“Hal ini mengakibatkan selain rusaknya pola kemitraan, BBT PG eksisting berkurang dan tidak bisa memenuhi kapasitas giling,” ujarnya

” Saat ini ada dua pabrik gula baru di Jatim, musim giling ini mereka membeli tebu petani dari luar daerahnya, dan petani tersebut merupakan mitra pabrik gula eksisting dengan harga diatas rata-rata. Dampaknya luas, mulai dari rusaknya pola kemitraan, pengembalian petani atas pinjaman modal dari PG juga tersendat bahkan macet, hingga kapasitas yang tidak tercapai, idle capasity, yang akhirnya menyebabkan pabrik gula rugi dalam beroperasional,” katanya

Bila hal ini terus berlanjut Dedy, maka memprediksi akan ada banyak penutupan atau pengalihfungsian pabrik gula yang berakibat langsung pada nasib tenaga kerja.

” Tentunya hal ini akan berdampak pada tenaga kerja pabrik gula yang dialihfungsikan atau bahkan ditutup yang jumlahnya ribuan. Untuk itu kepada semua para pihak agar menepati komitmen masing-masing. Pola kemitraan dengan petani tebu yang sudah berjalan dari dulu jangan dirusak dengan motif transaksi. Inti permasalahan adalah kurangnya BBT, PG baru harus membangun kebun sendiri untuk memenuhi kebutuhannya, demikian juga PG eksisting selain harus memenuhi BBT-nya juga menjaga performa dalam pabrik. Klop, semua pihak jaga komitmennya,” ungkapnya.

Penulis : Tim Bisnistoday.id

Editor   : Ali

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *